
Bandar Lampung - Jemari itu menggenggam erat selembar naskah puisi. Sesekali ia menarik napas panjang sebelum melangkah ke tengah panggung. Sorot lampu mulai mengarah, sementara puluhan pasang mata tertuju kepadanya. Di hadapan dewan juri dan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Lampung, Anas Nur Fatoni, mahasiswa Program Vokasi Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), bersiap menghidupkan Sagu Ambon, puisi karya W.S. Rendra yang sarat pesan tentang kemanusiaan dan perdamaian.
Suasana aula Politeknik Negeri Lampung (Polinela) yang menjadi lokasi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (PEKSIMIDA) terasa hening ketika bait demi bait mulai dilantunkan. Dengan intonasi yang tegas, ekspresi yang penuh penghayatan, serta gerak tubuh yang menyatu dengan isi puisi, Anas berusaha menghadirkan makna yang lebih dari sekadar untaian kata. Baginya, puisi bukan hanya seni membaca, melainkan media untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada banyak orang.
Ia memilih Sagu Ambon bukan tanpa alasan. Puisi karya W.S. Rendra itu menyampaikan pesan yang tetap relevan hingga kini. Salah satu larik yang paling menggugah berbunyi, "Daripada membakar masjid, daripada membakar gereja, lebih baik kita bakar sagu saja." Menurut Anas, penggalan tersebut mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci."Saya memilih puisi ini karena pesannya sangat dekat dengan kehidupan kita. Perbedaan agama, suku, maupun budaya bukan untuk dipertentangkan, tetapi menjadi kekuatan untuk saling menghargai. Melalui puisi, saya ingin menyampaikan bahwa perdamaian selalu lebih indah daripada permusuhan," ujar laki-laki berkacamata itu.
Keikutsertaannya dalam PEKSIMIDA menjadi pengalaman yang membuka ruang belajar baru. Bertemu dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung membuatnya semakin termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang seni sastra. "Bisa tampil di PEKSIMIDA adalah kebanggaan bagi saya. Selain menguji kemampuan, saya juga mendapat banyak pengalaman dan inspirasi dari peserta lain. Semoga ke depan semakin banyak mahasiswa UM Metro yang berani tampil dan berkarya di tingkat provinsi," tuturnya.
Bagi Anas, setiap panggung adalah ruang untuk bertumbuh. Setiap bait puisi yang dibacakan bukan sekadar untuk dinilai, tetapi juga menjadi cara menyampaikan pesan kemanusiaan kepada siapa pun yang mendengarnya. Dari selembar naskah puisi yang digenggamnya, lahir harapan agar sastra terus menjadi jembatan yang menghubungkan keberagaman, menumbuhkan empati, dan menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya. Melalui langkah kecilnya di panggung PEKSIMIDA, Anas turut membawa semangat Universitas Muhammadiyah Metro untuk terus hadir tidak hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam pengembangan seni, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.(*)