METRO – Langkah menuju akademisi berkelas dunia tidak dimulai ketika seseorang menyandang gelar doktor. Perjalanan itu justru dimulai dari keberanian untuk menentukan arah keilmuan, membangun jejaring internasional, serta menghadirkan penelitian yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Semangat itulah yang memenuhi Auditorium Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), saat puluhan sivitas akademika mengikuti International Academic Coaching Program. kegiatan ini berlangsung pada hari sabtu 04 juli 2026.

Sejak pagi, auditorium dipadati para pimpinan universitas, direktur, dekan, ketua program studi, dosen, hingga mahasiswa pascasarjana. Mereka datang dengan tujuan yang sama, memperluas wawasan mengenai strategi menempuh pendidikan doktor, membangun kolaborasi internasional, dan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.

Mengusung tema Strategic Preparation for PhD Success and International Publication, kegiatan yang diinisiasi Pusat Kerja Sama dan Kantor Urusan Internasional (PKKUI) UM Metro tersebut menjadi bagian dari langkah nyata universitas dalam memperkuat internasionalisasi dan memperluas jejaring akademik bersama Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM).

Acara dibuka oleh Wakil Rektor IV UM Metro, Muhammad Ichsan Dacholfany, yang menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkompetisi di tingkat global melalui kolaborasi, riset, dan inovasi.

Menurutnya, internasionalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan global.

Semangat itulah yang terus diupayakan UM Metro melalui berbagai kerja sama internasional. Di balik penyelenggaraan program tersebut, PKKUI yang dipimpin Yasmika Baihaqi terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi mitra. International Academic Coaching Program menjadi salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut, menghadirkan akademisi internasional agar pengalaman dan jejaring global dapat dirasakan langsung oleh sivitas akademika UM Metro.

Kesempatan itu dimanfaatkan dengan menghadirkan dua akademisi dari Universiti Muhammadiyah Malaysia, yakniProf. Emeritus Dr. Rushami Zien Yusoff dan Assoc. Prof. Dr. Dwi Santoso, yang berbagi pengalaman mengenai perjalanan studi doktor, strategi membangun penelitian berkualitas, hingga pentingnya kolaborasi internasional.

Dalam sesinya, Rushami Zien Yusoff mengajak peserta melihat pendidikan doktor sebagai proses pembentukan seorang ilmuwan, bukan sekadar upaya memperoleh gelar akademik. Menurutnya, seorang doktor dituntut mampu melahirkan gagasan baru, berpikir mandiri, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun penyelesaian persoalan di masyarakat.

"A PhD is not just about earning a degree; it is about becoming an independent researcher who creates knowledge, solves real-world problems, and contributes to society," tegasnya.

Rushami menjelaskan bahwa penelitian doktor harus menghasilkan kontribusi ilmiah yang orisinal. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi dapat diwujudkan melalui pengembangan konsep, pendekatan, maupun interpretasi baru terhadap persoalan yang telah ada. Karena itu, ia mendorong peserta untuk membangun kemampuan berpikir kritis, membaca literatur secara mendalam, serta berani mempertahankan argumentasi ilmiah berdasarkan bukti yang kuat.

Sementara itu, suasana auditorium kembali hening ketika Dwi Santoso membuka materinya dengan sebuah pertanyaan sederhana.

"What expert are you going to be?"

Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan doktor bukan hanya tentang menyelesaikan disertasi, melainkan membangun identitas keilmuan. Menurut Dwi, setiap calon peneliti harus mampu menentukan bidang kepakaran yang spesifik sehingga memiliki posisi yang jelas dalam komunitas akademik.

Ia menjelaskan bahwa banyak proposal doktor ditolak bukan karena kemampuan akademik penelitinya, tetapi karena belum mampu menunjukkan research gap dan kontribusi ilmiah yang kuat. Oleh sebab itu, ia mengajak peserta agar tidak sekadar mengikuti tren penelitian, melainkan berani mengembangkan bidang yang masih terbuka sehingga mampu menghasilkan inovasi.

Pengalaman pribadinya menjadi ilustrasi menarik. Berawal dari bidang Pendidikan Bahasa Inggris, Dwi memilih mendalami linguistik forensik, bidang yang saat itu belum banyak dikembangkan. Keputusan tersebut kemudian membawanya menjadi saksi ahli dalam berbagai perkara hukum di Indonesia maupun Malaysia.

"Saya ingin memberikan sesuatu yang baru. Jangan hanya mengejar gelar PhD, tetapi pikirkan kontribusi apa yang ingin Anda berikan kepada masyarakat dan dunia akademik," ungkapnya.

Tidak hanya membahas strategi studi doktor, Dwi juga menyoroti pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik. Menurutnya, berbagai platform AI dapat membantu peneliti mempercepat pencarian literatur, pengelolaan referensi, hingga penyusunan naskah ilmiah. Namun, teknologi tetap harus digunakan secara bijaksana.

"AI boleh digunakan, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan kemampuan berpikir. Gunakan AI sebagai pendamping, bukan sebagai pengganti proses belajar," pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan penelitian tidak diukur dari banyaknya artikel yang diterbitkan, melainkan dari dampak yang dihasilkan.

"Research is about creating impact, not merely publishing papers. Strong collaboration and continuous learning are the keys to academic excellence," ujarnya.

Diskusi yang berlangsung setelah sesi pemaparan menunjukkan antusiasme peserta. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari strategi memperoleh beasiswa doktor, menentukan topik penelitian yang memiliki novelty, membangun kolaborasi dengan profesor luar negeri, hingga peluang publikasi pada jurnal bereputasi internasional. Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mempertemukan gagasan antara akademisi Indonesia dan Malaysia.

Komitmen memperkuat jejaring internasional tidak berhenti pada forum diskusi. Pada kesempatan yang sama, Universitas Muhammadiyah Metro dan Universiti Muhammadiyah Malaysia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai dasar pengembangan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Program Vokasi UM Metro dan Universiti Muhammadiyah Malaysia. Selain itu, Program Studi D-3 Sistem Informasi, D-3 Akuntansi, serta D-3 Perbankan dan Keuangan juga menandatangani Implementation Agreement (IA) bertema Strengthening International Collaboration through Academic Benchmarking, Doctoral Study Opportunities, and Pre-PhD Coaching. Kesepakatan tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, mulai dari academic benchmarking, penelitian bersama, publikasi internasional, hingga pendampingan bagi dosen yang akan melanjutkan studi doktor.

Rangkaian kegiatan itu menjadi penegasan bahwa internasionalisasi bukan sekadar membangun hubungan antarlembaga, tetapi menghadirkan kesempatan nyata bagi sivitas akademika untuk berkembang di tingkat global.

Ketika acara berakhir, para peserta meninggalkan auditorium dengan lebih dari sekadar materi presentasi dan sertifikat. Mereka membawa perspektif baru bahwa perjalanan menjadi akademisi berkelas dunia dimulai dari keberanian menentukan arah keilmuan, kemauan untuk terus belajar, membangun kolaborasi lintas negara, serta menghasilkan penelitian yang mampu memberi dampak bagi masyarakat.

Melalui International Academic Coaching Program, UM Metro kembali menegaskan komitmennya untuk terus merajut jejaring global dan memperkuat budaya akademik yang unggul. Sebab, di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin terbuka, universitas tidak hanya dituntut mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga melahirkan peneliti, inovator, dan pemimpin akademik yang mampu membawa ilmu pengetahuan melampaui batas ruang dan negara. (*)