Loading...
LOADING...
ADDRESS
Jl. Ki Hajar Dewantara No. 116 Iringmulyo
CONTACT
(0725) 42445
Jadwal Sholat Kota Metro
Memuat...
PENMARU
Program Vokasi UM Metro
Kabar Terbaru

Berita

Menampilkan hasil pencarian: "beasiswa"
Mastama Program Vokasi, Membekali Mahasiswa Baru Menapaki Kehidupan Akademik dan Kampus
29
September 2026
Mastama Program Vokasi, Membekali Mahasiswa Baru Menapaki Kehidupan Akademik dan Kampus
September 2026

Metro — Memasuki perguruan tinggi merupakan langkah baru yang membawa banyak pengalaman bagi mahasiswa. Tidak hanya berhadapan dengan lingkungan belajar yang berbeda, mahasiswa juga mulai mengenal sistem akademik, kegiatan perkuliahan, program magang, layanan digital, hingga kehidupan sosial di lingkungan kampus. Momentum tersebut menjadi bagian dari rangkaian Masa Ta’aruf Mahasiswa (Mastama) Program Vokasi Universitas Muhammadiyah Metro. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang penyambutan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk memperoleh pembekalan sebelum memulai perjalanan akademik di Program Vokasi. Mengenal Perkuliahan dan Dunia Magang Pengarahan dari Direktur Program Vokasi, Sri Retnaning Rahayu, memberikan gambaran awal mengenai kehidupan akademik yang akan dijalani mahasiswa. Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa baru diarahkan untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka sebagai bagian dari lingkungan perguruan tinggi. Pengarahan kemudian dilanjutkan oleh Wakil Direktur Program Vokasi, Khoeroni, yang memberikan penjelasan mengenai kegiatan perkuliahan dan magang. Bagi pendidikan vokasi, pengalaman praktik menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk memahami materi akademik, tetapi juga diarahkan untuk memiliki pengalaman yang berkaitan dengan dunia kerja. Pembekalan tersebut menjadi gambaran awal bahwa perjalanan mahasiswa di Program Vokasi akan berlangsung melalui berbagai pengalaman belajar, baik di ruang perkuliahan maupun melalui kegiatan yang memberikan kesempatan untuk mengenal lingkungan profesional. Mengenal Lingkungan Perguruan Tinggi Setiap program studi turut memberikan pembekalan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Ketua Program Studi Perbankan dan Keuangan, Fitriani, memberikan pengarahan mengenai lingkungan perkuliahan dan kehidupan di perguruan tinggi. Materi tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa baru untuk memahami bagaimana beradaptasi dengan pola belajar, lingkungan akademik, serta dinamika kehidupan sebagai mahasiswa. Sementara itu, Ketua Program Studi Akuntansi, Ana Septiani, memberikan informasi mengenai biaya perkuliahan dan beasiswa. Penjelasan tersebut membantu mahasiswa memahami aspek pembiayaan selama menempuh pendidikan sekaligus mengenal peluang dukungan melalui program beasiswa yang tersedia. Dari Program Studi Sistem Informasi, Ketua Program Studi Mujito, memberikan pengarahan mengenai penggunaan SIAKAD dan SPADA. Pengenalan terhadap layanan akademik digital menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi aktivitas perkuliahan. Pemahaman mengenai SIAKAD dan SPADA diharapkan membantu mahasiswa baru lebih siap dalam mengakses berbagai kebutuhan akademik dan mengikuti proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi digital. Menumbuhkan Kesadaran tentang Inklusi Selain pembekalan akademik, Mastama juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap keberagaman. Pelita UM Metro turut hadir membersamai kegiatan dengan memberikan edukasi mengenai disability awareness. Edukasi ini menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman bahwa lingkungan perguruan tinggi merupakan ruang bersama yang dihuni oleh individu dengan karakteristik dan kebutuhan yang beragam. Kesadaran mengenai disabilitas tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana setiap warga kampus membangun interaksi yang saling menghargai. Sikap terbuka, kepedulian, serta kesediaan memahami kebutuhan orang lain menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif. Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika diperkenalkan sejak awal perjalanan mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk mengikuti proses akademik, tetapi juga diajak memahami nilai kebersamaan yang menjadi bagian dari kehidupan kampus. Lebih dari Sekadar Penyambutan Berbagai materi yang disampaikan dalam Mastama menunjukkan bahwa memasuki perguruan tinggi membutuhkan kesiapan yang menyeluruh. Mahasiswa perlu mengenal lingkungan akademik, memahami sistem perkuliahan, mengetahui kegiatan magang, memahami aspek pembiayaan pendidikan, mengenal layanan digital, sekaligus membangun kemampuan untuk berinteraksi dalam lingkungan yang beragam. Rangkaian kegiatan tersebut juga mencerminkan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung dan inklusif. Nilai tersebut juga sejalan dengan SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan, melalui penguatan kesadaran terhadap keberagaman dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam lingkungan pendidikan. Pada akhirnya, Mastama menjadi lebih dari sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru. Ia menjadi pintu pertama untuk mengenal kehidupan perguruan tinggi, memahami perjalanan akademik, dan membangun relasi dengan lingkungan kampus. Dari pengarahan pimpinan hingga pembekalan program studi, dari pengenalan sistem akademik hingga edukasi tentang inklusi, setiap bagian Mastama memberikan bekal yang saling melengkapi. Sebuah perjalanan baru pun dimulai. Mahasiswa baru Program Vokasi tidak hanya datang untuk belajar di ruang kelas, tetapi juga untuk tumbuh, beradaptasi, membangun kebersamaan, dan menjadi bagian dari lingkungan akademik yang menghargai keberagaman. (*)

Merajut Jejaring Global, UM Metro Menguatkan Langkah Akademisi Berkelas Dunia
04
Juli 2026
Merajut Jejaring Global, UM Metro Menguatkan Langkah Akademisi Berkelas Dunia
Juli 2026

METRO – Langkah menuju akademisi berkelas dunia tidak dimulai ketika seseorang menyandang gelar doktor. Perjalanan itu justru dimulai dari keberanian untuk menentukan arah keilmuan, membangun jejaring internasional, serta menghadirkan penelitian yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Semangat itulah yang memenuhi Auditorium Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), saat puluhan sivitas akademika mengikuti International Academic Coaching Program. kegiatan ini berlangsung pada hari sabtu 04 juli 2026. Sejak pagi, auditorium dipadati para pimpinan universitas, direktur, dekan, ketua program studi, dosen, hingga mahasiswa pascasarjana. Mereka datang dengan tujuan yang sama, memperluas wawasan mengenai strategi menempuh pendidikan doktor, membangun kolaborasi internasional, dan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah. Mengusung tema Strategic Preparation for PhD Success and International Publication, kegiatan yang diinisiasi Pusat Kerja Sama dan Kantor Urusan Internasional (PKKUI) UM Metro tersebut menjadi bagian dari langkah nyata universitas dalam memperkuat internasionalisasi dan memperluas jejaring akademik bersama Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM). Acara dibuka oleh Wakil Rektor IV UM Metro, Muhammad Ichsan Dacholfany, yang menegaskan bahwa perguruan tinggi saat ini harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkompetisi di tingkat global melalui kolaborasi, riset, dan inovasi. Menurutnya, internasionalisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan global. Semangat itulah yang terus diupayakan UM Metro melalui berbagai kerja sama internasional. Di balik penyelenggaraan program tersebut, PKKUI yang dipimpin Yasmika Baihaqi terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi mitra. International Academic Coaching Program menjadi salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut, menghadirkan akademisi internasional agar pengalaman dan jejaring global dapat dirasakan langsung oleh sivitas akademika UM Metro. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan menghadirkan dua akademisi dari Universiti Muhammadiyah Malaysia, yakniProf. Emeritus Dr. Rushami Zien Yusoff dan Assoc. Prof. Dr. Dwi Santoso, yang berbagi pengalaman mengenai perjalanan studi doktor, strategi membangun penelitian berkualitas, hingga pentingnya kolaborasi internasional. Dalam sesinya, Rushami Zien Yusoff mengajak peserta melihat pendidikan doktor sebagai proses pembentukan seorang ilmuwan, bukan sekadar upaya memperoleh gelar akademik. Menurutnya, seorang doktor dituntut mampu melahirkan gagasan baru, berpikir mandiri, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun penyelesaian persoalan di masyarakat. "A PhD is not just about earning a degree; it is about becoming an independent researcher who creates knowledge, solves real-world problems, and contributes to society," tegasnya. Rushami menjelaskan bahwa penelitian doktor harus menghasilkan kontribusi ilmiah yang orisinal. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi dapat diwujudkan melalui pengembangan konsep, pendekatan, maupun interpretasi baru terhadap persoalan yang telah ada. Karena itu, ia mendorong peserta untuk membangun kemampuan berpikir kritis, membaca literatur secara mendalam, serta berani mempertahankan argumentasi ilmiah berdasarkan bukti yang kuat. Sementara itu, suasana auditorium kembali hening ketika Dwi Santoso membuka materinya dengan sebuah pertanyaan sederhana. "What expert are you going to be?" Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan doktor bukan hanya tentang menyelesaikan disertasi, melainkan membangun identitas keilmuan. Menurut Dwi, setiap calon peneliti harus mampu menentukan bidang kepakaran yang spesifik sehingga memiliki posisi yang jelas dalam komunitas akademik. Ia menjelaskan bahwa banyak proposal doktor ditolak bukan karena kemampuan akademik penelitinya, tetapi karena belum mampu menunjukkan research gap dan kontribusi ilmiah yang kuat. Oleh sebab itu, ia mengajak peserta agar tidak sekadar mengikuti tren penelitian, melainkan berani mengembangkan bidang yang masih terbuka sehingga mampu menghasilkan inovasi. Pengalaman pribadinya menjadi ilustrasi menarik. Berawal dari bidang Pendidikan Bahasa Inggris, Dwi memilih mendalami linguistik forensik, bidang yang saat itu belum banyak dikembangkan. Keputusan tersebut kemudian membawanya menjadi saksi ahli dalam berbagai perkara hukum di Indonesia maupun Malaysia. "Saya ingin memberikan sesuatu yang baru. Jangan hanya mengejar gelar PhD, tetapi pikirkan kontribusi apa yang ingin Anda berikan kepada masyarakat dan dunia akademik," ungkapnya. Tidak hanya membahas strategi studi doktor, Dwi juga menyoroti pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik. Menurutnya, berbagai platform AI dapat membantu peneliti mempercepat pencarian literatur, pengelolaan referensi, hingga penyusunan naskah ilmiah. Namun, teknologi tetap harus digunakan secara bijaksana. "AI boleh digunakan, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan kemampuan berpikir. Gunakan AI sebagai pendamping, bukan sebagai pengganti proses belajar," pesannya. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan penelitian tidak diukur dari banyaknya artikel yang diterbitkan, melainkan dari dampak yang dihasilkan. "Research is about creating impact, not merely publishing papers. Strong collaboration and continuous learning are the keys to academic excellence," ujarnya. Diskusi yang berlangsung setelah sesi pemaparan menunjukkan antusiasme peserta. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari strategi memperoleh beasiswa doktor, menentukan topik penelitian yang memiliki novelty, membangun kolaborasi dengan profesor luar negeri, hingga peluang publikasi pada jurnal bereputasi internasional. Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mempertemukan gagasan antara akademisi Indonesia dan Malaysia. Komitmen memperkuat jejaring internasional tidak berhenti pada forum diskusi. Pada kesempatan yang sama, Universitas Muhammadiyah Metro dan Universiti Muhammadiyah Malaysia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai dasar pengembangan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan sumber daya manusia. Kerja sama tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Program Vokasi UM Metro dan Universiti Muhammadiyah Malaysia. Selain itu, Program Studi D-3 Sistem Informasi, D-3 Akuntansi, serta D-3 Perbankan dan Keuangan juga menandatangani Implementation Agreement (IA) bertema Strengthening International Collaboration through Academic Benchmarking, Doctoral Study Opportunities, and Pre-PhD Coaching. Kesepakatan tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, mulai dari academic benchmarking, penelitian bersama, publikasi internasional, hingga pendampingan bagi dosen yang akan melanjutkan studi doktor. Rangkaian kegiatan itu menjadi penegasan bahwa internasionalisasi bukan sekadar membangun hubungan antarlembaga, tetapi menghadirkan kesempatan nyata bagi sivitas akademika untuk berkembang di tingkat global. Ketika acara berakhir, para peserta meninggalkan auditorium dengan lebih dari sekadar materi presentasi dan sertifikat. Mereka membawa perspektif baru bahwa perjalanan menjadi akademisi berkelas dunia dimulai dari keberanian menentukan arah keilmuan, kemauan untuk terus belajar, membangun kolaborasi lintas negara, serta menghasilkan penelitian yang mampu memberi dampak bagi masyarakat. Melalui International Academic Coaching Program, UM Metro kembali menegaskan komitmennya untuk terus merajut jejaring global dan memperkuat budaya akademik yang unggul. Sebab, di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin terbuka, universitas tidak hanya dituntut mencetak lulusan yang kompeten, tetapi juga melahirkan peneliti, inovator, dan pemimpin akademik yang mampu membawa ilmu pengetahuan melampaui batas ruang dan negara. (*)