September 2026
Metro - Sebuah gerakan sederhana tangan dapat menjadi jembatan komunikasi. Bagi sebagian orang, bahasa isyarat mungkin masih terasa asing. Namun, ketika dipelajari dan dipahami, ia membuka ruang interaksi yang lebih setara bagi mereka yang berkomunikasi dengan cara berbeda.
Kesadaran itulah yang dibangun Program Vokasi Universitas Muhammadiyah Metro bersama PELITA UM Metro melalui kegiatan Pelatihan Bahasa Isyarat, Disability Awareness, dan Pendampingan Kelas Inklusi, yang berlangsung selama dua hari, 8–9 September 2026.
Rangkaian pembelajaran dimulai pada 8 September dengan melibatkan tenaga kependidikan dan karyawan. Sehari berikutnya, kegiatan diperluas dengan kehadiran dosen bersama tenaga kependidikan dan karyawan. Direktur Program Vokasi, Ketua Program Studi D3 Sistem Informasi, dosen, serta staf turut mengikuti rangkaian tersebut.
Bukan sekadar belajar menerjemahkan gerakan tangan, kegiatan ini mengajak peserta melihat disabilitas dari sudut pandang yang lebih luas. Disability awareness menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman mengenai keberagaman kondisi, kebutuhan, serta cara berinteraksi yang tepat tanpa stigma maupun prasangka.
Materi disampaikan oleh Faris dari Geraktin Lampung. Melalui penyampaian yang interaktif, peserta memperoleh perspektif tentang bagaimana lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas. Pemahaman tersebut kemudian diperkuat melalui pengenalan bahasa isyarat sebagai salah satu bentuk komunikasi yang dapat digunakan dalam kehidupan akademik.
Di ruang kelas, kemampuan berkomunikasi memiliki arti yang lebih dari sekadar menyampaikan materi. Ia menentukan apakah seseorang merasa didengar, dipahami, dan memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam proses belajar.
Karena itu, kesiapan dosen dan tenaga kependidikan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Pengetahuan mengenai karakteristik kebutuhan mahasiswa, cara berkomunikasi, hingga pendampingan yang tepat dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih nyaman dan bermakna.
Bagi Program Vokasi UM Metro, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi, tetapi juga memperhatikan nilai kesetaraan dan kemanusiaan. Pendidikan vokasi pada akhirnya bukan hanya mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja, tetapi juga membentuk lingkungan yang mampu menghargai keberagaman.
Dua hari pembelajaran bersama PELITA UM Metro menjadi momentum untuk melihat kembali bahwa inklusi dapat dimulai dari hal yang paling mendasar: kesediaan untuk memahami orang lain.
Satu gerakan tangan yang dipelajari hari ini mungkin tampak sederhana. Namun, bagi seseorang yang selama ini menghadapi hambatan komunikasi, kemampuan orang lain untuk memahami bahasa tersebut dapat berarti hadirnya sebuah jembatan.
Melalui penguatan disability awareness, bahasa isyarat, dan pemahaman mengenai pendampingan kelas, Program Vokasi UM Metro bersama PELITA UM Metro terus menumbuhkan lingkungan akademik yang lebih terbuka. Sebuah langkah kecil untuk memastikan bahwa setiap mahasiswa memiliki ruang yang sama untuk belajar, berinteraksi, dan berkembang. (*)